Slide-Website-SNI

WORKSHOP DAN RISET SNI GKP 2018

Gula Kristal Putih SNI GKP NO. 3140.3:2010 (termasuk Amd 1: 2011) diwajibkan per 20 Juni 2015 . Pemberlakuan SNI GKP wajib menuntut produksi GKP dari pabrik gula (PG) untuk memenuhi standart GKP 1 ataupun GKP 2 pada saat produksi maupun selama perdagangan di pasar. Inspeksi pasar yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan pada tahun 2017 menunjukan bahwa dari 39 sampel yang diambil di pasar , 72% sampel tidak memenuhi persyaratan warna ICUMSA. Permasalahan yang terkait dengan implementasi SNI GKP wajib tidak hanya berdampak pada PGKP tetapi juga kepada petani tebu, dimana dalam sistem bagi hasil gula PG dengan petani, 66% gula yang dihasilkan PGKP . Munculnya permasalahan implementasi SNI GKP wajib pada taun 2017 tersebut menyadarkan komitmen para produsen gula agar GKP yang dihasilkan ke depan dapat memenuhi standart SNI GKP.

            Disisi lain pada tahun 2015 ketika sosialisasi SNI Wajib dilaksanakan, Pusat Peneitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) telah menyampaikan bahwa salah satu kelemahan dari SNI GKP yang akan diberlakukan adalah belum ada catatan dalam SNI GKP wajib tentang potensi perubahan warna gula selama penyimpanan. GKP yang dihasilkan dari proses pemurnian sulfitasi , berpotensi mengalami perubahan warna gula yang jauh lebih nyata selama penyimpanan dibandingkan dengan proses pemurnian defekasi remelt karbonatasi. Saat ini sekitar 80% PG. di Indonesia masih menggunakan proses pemurnian sulfitasi. Hasil riset P3GI terkait penyimpanan gula sulfitasi di gudang PG yang dilaksanakan mulai akhir tahun 2015 sampai akhir 2016 membuktikan prediksi tersebut.

            Disamping itu sesuai hasil pertemuan terkait permasalahan implementasi SNI GKP yang dikoordinasi oleh Direktorat Pengelolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP), Kementerian Pertanian pada tanggal 10 Oktober 2017, bahwa SNI GKP No . 3140.3:2010 (termasuk Amd 1: 2011) saat ini harus segera dievaluasi kembali dan disempurnakan karena beberapa poin sudah tidak sesuai dengan perkembangan perundang-undangan pangan, selain bebrapa parameter teknis yang perlu disempurnakan. Berdasarkan berbagai permasalahan dalam implementasi SNI GKP Wajib seperti tersebut di atas dan dalam rangka perbaikan ke depan maka diperlukan riset bersama untuk mendukung penyusunan draf revisi SNI GKP ataupun penyusunan SNI Gula Kristal berbasis tebu, termasuk workshop yang terkait untuk meningkatkan pemahaman dari stake holder pergulaan terhadap SNI GKP.

Registrasi : www.event.p3gi.co.id

LEGENDA TEBU UNGGUL ANDALAN HINDIA BELANDA (POJ 2878) YANG MASIH MENJADI ANDALAN DI KERINCI (POJ 2878 AGRIBUN KERINCI)

Legenda pergulaan di Indonesia bermula dari serangan penyakit sereh di perkebunan gula di Jawa serta persaingan persaingan gula tebu dengan gula dari bit gula. Serangan penyakit sereh di Jawa ini dikarenakan varietas yang ditanam pada waktu itu, Cirebon Hitam, peka terhadap penyakit ini.

Serangan penyakit sereh serta persaingan gula tebu dengan bit gula memicu munculnya penelitian serta segala usaha lain. Untuk mengembalikan kejayaan gula tebu baik dengan pendirian balai penelitian tebu maupun usaha pemuliaan tanaman tebu hingga pada akhirnya Soltwedel pada tahun 1885 menemukan bahwa perbanyakan tanaman tebu dapat dilakukan melalui biji. Sejak saat itulah kemajuan pemuliaan tebu terjadi, termasuk upaya  merakit varietas-varietas unggul melalui persilangan dengan tujuan saat itu untuk mengatasi penyakit sereh. Melalui persilangan, berhasil merakit varietas POJ 2878 pada tahun 1923.

Lahirnya varietas POJ 2878 tercatat dalam sejarah pergulaan sebagai hasil yang luar biasa dari Balai Penelitian Perusaan Perkebunan Gula. Hal ini sangatlah beralasan, karena dengan pengembangan POJ 2878, produksi gula meningkat secara drastis sehingga bukan masalah penyakit sereh saja yang dapat diatasi saat itu, melainkan juga masalah persaingan gula tebu dengan gula bit.

 Sedangkan terkait pelepasan varietas yang telah lama berkembang di Jambi terdapat Informasi yang diperoleh dari narasumber (Bapak Wagiman, mantan Wakil Mandor Perkebunan Teh, usia 92 tahun) yang menyebutkan bahwa tebu lokal Kerinci dibawa oleh tenaga kontrak dari Jawa yang dipekerjakan sebagai buruh perkebunan teh pada tahun 1929. Ada 6 jenis tebu yang dibawa oleh pekerja perkebunan teh ke Kerinci, yaitu jenis kuning (tebu bambu), coklat, putih/kapur, hitam, loreng dan mangli. Awalnya keenam jenis tersebut hanya ditanam sebagai konsumsi dipekarangan–pekarangan rumah. Namun pada tahun 1949,  ketika pekerja sudah mempunyai lahan yang bisa dikerjakan, mereka mulai melakukan budidaya tebu.

 Dari keenam jenis yang ada, ternyata hanya jenis kuning yang diminati oleh petani dan berkembang luas. Jenis lainnya ternyata tidak tahan hama/penyakit dan berbunga cepat sehingga produktivitas gula dan rendemen yang dihasilkan sedikit. Pada awal tahun 2000, petani melakukan introduksi jenis varietas unggul dari Palembang (varietas PSBM). Namun keragaan dari varietas unggul ini Nampaknya tidak sesuai harapan. Walaupun produktivitas tebu dan rendemen varietas unggul tersebut cukup tinggi tapi mereka memiliki sifat yang tidak disukai petani, seperti sulit diklentek, anakan banyak tapi kecil dan berbunga.

 Hasil penyandraan tim Balitbangtan terhadap karakter morfologi dan agronomi kultivar kuning menunjukkan bahwa varietas ini menyerupai varietas POJ 2878 yang telah dilepas oleh pemerintah pada zaman Belanda. Kajian literature juga menunjukkan bahwa varietas POJ 2878 ternyata sesuai untuk dibudidayakan di dataran tinggi di Colombia dan Puerto Rico  (Eka Sugiyarta, Komunikasi pribadi dalam P3GI, 2016). Karena varietas POJ 2878 telah dibudidayakan sejak tahun 1949 dan tidak pernah dilakukan pemurnian, maka ada kemungkinan telah terjadi perubahan sifat akibat mutasi gen. Untuk memastikan perubahan tersebut dilakukan analisa DNA menngunakan metode SSR pada 3 lokasi pengembangan lama (Desa Sungai Asam, Desa Giri Mulyo dan Desa Kampung Baru) dibandingkan dengan control POJ 2878.

 Pelepasan varietas unggul lokal tebu dataran tinggi Kerinci diharapkan dapat mendukung pengembangan tebu dataran tinggi tidak hanya di Jambi namun juga di Propinsi lain yang memiliki iklim dan agroekologi serupa (Sumbar dan Aceh). Fajar Hufail, SP., MM. PBT Ahli Muda Ditjen Perkebunan

Sumber :

  1. Tim Pelepasan Varietas Tebu Kerinci. 2016. Usulan Pelepasan Klon Unggul Lokal Tebu Dataran Tinggi Kerinci untuk Mendukung Swasembada Gula
  2. Widyasari, W.B. 2016. Pemuliaan Tanaman Tebu : Arah, Strategi dan Permasalahannya. P3GI

PERSILANGAN ANTARGENUS MENGHASILKAN VARIETAS TEBU UNGGUL (PS 091 DAN PS 092)

Perjalanan waktu telah dilalui bangsa Indonesia untuk menjadikan dirinya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pembangunan di berbagai sektor telah dilaksanakan guna mencapai tujuan itu termasuk pembangunan di sektor pertanian dan terkhusus subsektor perkebunan.  Pembangunan  perkebunan sejatinya sangatlah tergantung pada banyak faktor diantaranya : faktor petani, sarana produksi pertanian (saprotan), faktor tata niaga, kondisi pasar domestik dan internasional, regulasi pemerintah dan masih banyak lagi. 

 Penyediaan benih perkebunan yang berkualitas dan tepat sesuai agroklimat mutlak diperlukan sebagai sarana produksi bagi keberhasilan perkebunan. Kendala dan permasalahan yang sering dihadapi pada perbenihan tanaman perkebunan diantaranya : masih banyak beredarnya benih ilegitim, rendahnya penggunaan benih bermutu di lapangan terutama benih yang sudah dirilis, ketersediaan benih bermutu yang masih kurang untuk tanaman-tanaman tertentu,  lemahnya penelitian dan pengembangan perbenihan perkebunan serta dukungan pendanaannya, aplikasi kebijakan yang dipahami secara berbeda antar stakeholder,fanatiknya petani dengan varietas tertentu yang boleh jadi kurang sesuai lagi untuk agroklimat di daerah tersebut, dll. Meskipun kendala, kelemahan maupun tantangan perbenihan tanaman perkebunan menghadang di depan mata, namun bukan berarti perbenihan perkebunan harus stagnan. Diperlukan inovasi baru agar produksi dan produktivitas tanaman perkebunan bisa meningkat.

Pada hakekatnya tujuan dari setiap program pemuliaan tebu dapat ditinjau, baik dari segi ekonomi maupun dari segi biologi. Dari segi ekonomi, tujuan utamanya adalah untuk memilih varietas-varietas yang dapat memberikan keuntungan maksimal kepada pabrik gula maupun pada petani (Skinner, 1971). Sedang dari segi biologi bertujuan untuk mendapatkan varietas unggul baru dengan sifat-sifat keturunan yang lebih baik secara kualitatif maupun kuantitatif dari pada varietas komersial yang diusahakan pada masa itu.

 Pemuliaan tebu di Indonesia secara umum bertujuan untuk memperoleh varietas-varietas unggul dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. Hasil tebu dan rendemen tinggi.
  2. Tahan dan atau toleran terhadap penyakit dan hama penting.
  3. Mempunyai sifat-sifat agronomi yang diharapkan, seperti perkecambahan yang merata, keprasan yang baik, sogolannya sedikit, tidak atau sedikit berbunga, tahan rebah, dan cepat menutup tanah.
  4. Toleran terhadap  kondisi  lingkungan  bermasalah  seperti  curah  hujan, keadaan kering, pH rendah, lahan dengan kadar garam tinggi, dll.

 Harapan dari pengguna maupun praktisi pertanaman tebu tentu saja mendapatkan varietas baru dengan keunggulan yang beragam, namun,  tidak mudah merakit suatu varietas tebu yang unggul dengan semua sifat. Hingga kini, varietas tebu unggul komersial yang sudah dilepas dan dikembangkan secara luas di wilayah pengembangan tebu di Indonesia masih belum ada yang benar-benar tahan terhadap beberapa penyakit seperti luka api dan mosaic bergaris.

Di Indonesia pelepasan varietas tebu unggul baru melalui program pemuliaan masih terasa lambat. Varietas unggul komersial yang berkembang saat ini terutama di Pulau Jawa merupakan varietas lama. Seperti PS 864 yang dilepas oleh P3GI pada tahun 2004, PS 881 dilepas pada tahun 2008, KK dilepas pada tahun 2008 dan BL dilepas pada tahun 2004. Oleh karena itu perakitan varietas tebu unggul baru selalu diperlukan untuk menyediakan pilihan-pilihan varietas yang berkesinambungan kepada masyarakat.

Sejak tahun 2009, P3GI melakukan terobosan baru dalam proses perakitan varietas tebu unggul baru melalui persilangan tebu komersial dengan kerabat liar, yaitu Erianthus arundinaceus. Kekayaan material genetik Saccharum complex yang  dimiliki  P3GI  dimanfaatkan  kembali  secara  optimal  seperti  pada jaman Hindia Belanda untuk memenuhi tuntutan praktisi yang semakin beragam. Dengan memanfaatkan efek “heterosis,” persilangan tebu dengan Erianthus arundinaceus ditujukan untuk memperoleh keturunan yang lebih unggul dari induknya (P3GI, 2016).

Erianthus arundinaceus (Retz dalam Widyasari, 2016) Jesw menjadi pilihan sebagai salah satu tetua persilangan dalam program perakitan varietas tebu unggul di P3GI karena mempunyai beberapa sifat penting yang berguna dalam program perbaikan genetik tebu. Erianthus arundinaceus (Retz dalam P3GI, 2016) Jesw mempunyai sifat daya adaptasi yang luas, mulai dari kondisi lingkungan yang basah sampai kering, tahan dingin, tahan kepras, kadar sabut tinggi, pertumbuhan yang cepat, tegak, perakaran kuat, vigor dan komponen produksi yang tinggi (Piperidis et al., 2000; Zhang et al., 2009 dalam P3GI,, 2016).

Sementara itu, Roach (1986) dalam P3GI, (2016) menyatakan bahwa tebu liar dan kerabatnya termasuk Erianthus dapat menjadi sumber gen ketahanan terhadap penyakit. Erianthus arundinaceus memiliki gen ketahanan terhadap beberapa penyakit penting pada tebu tebu antara lain: penyakit mosaic yang disebabkan oleh SCMV (Grisham, 1992 dalam P3GI,, 2016), penyakit busuk merah (red rot) yang disebabkan oleh Colletotrichum falcatum (Ram et al., 2001 dalam P3GI, 2016), dan penyakit karat yang disebabkan oleh Puccinia melanocephala (Li et al., 2005; Wang et al., 2013 dalam P3GI, 2016). Putra et al. (2015b) dalam P3GI, 2016 melaporkan bahwa dari hasil infeksi secara buatan menunjukkan bahwa Erianthus arundinaceus sangat tahan terhadap SCSMV sehingga dapat digunakan sebagai  sumber gen ketahanan dalam persilangan tebu untuk mendapatkan varietas tebu tahan SCSMV. Oleh karena itu, saat ini genus Erianthus section Ripidium digolongkan dalam tetua elite karena memiliki beberapa karakter yang baik untuk digunakan dalam program introgresi dalam memperluas dasar genetik tetua persilangan atau untuk memasukkan sifat-sifat yang diinginkan ke tebu komersial masa kini.

Hasil persilangan tebu komersial dengan Erianthus arundinaceus tersebut menunjukkan potensi rendemen dan produksi yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan potensi rendemen beberapa klon lebih dari 12% bahkan ada yang mencapai 14%. Selain itu beberapa klon yang lain menunjukkan potensi hablur lebih dari 150 ku/ha di beberapa lokasi pengujian.

Dua varietas yang berhasil dilepas oleh P3GI pada Tahun 2016, PS 091 dan  PS 092 serta klon harapan yang tidak berhasil dilepas, PS 09-0401, merupakan hasil persilangan antar genus yaitu  tebu  komersial  dengan  Erianthus  arundinaceus.  Ketiga  varietas tersebut mempunyai potensi hablur di atas 100 ku/ha di ekolokasi yang cocok. PS 091 mempunyai keunggulan potensi rendemen 14% di lahan tegalan yang bertekstur ringan dan tahan terhadap penyakit streak mosaic. PS 092 memiliki keunggulan tahan kepras, hasil tebu mencapai 1.200 ku/ha, rendemen mencapai 13% dan hablur mencapai 150 ku/ha.

Dengan adanya keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh PS 091 dan  PS 092 diharapkan dapat dimanfaatkan oleh petani dan industri gula Nasional guna pencapaian swasembada gula nasional serta tujuan komplementer lainnya terutama sabut tebu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Fajar Hufail, SP.

PBT Ahli Muda Ditjen Perkebunan

http://perbenihan.ditjenbun.pertanian.go.id/web/page/title/180/persilangan-antargenus-menghasilkan-varietas-tebu-unggul-ps-091-dan-ps-092?post_type=berita

Sumber :

Tim Pelepasan Varietas Tebu P3GI. 2016. Usulan Pelepasan Varietas Tebu Unggul Harapan PS 09-1508, PS 09-1416 dan PS 09-0401.

Widyasari, W.B. 2016. Pemuliaan Tanaman Tebu : Arah, Strategi dan Permasalahannya. P3GI

SELAMAT DATANG KEMBALI TEBU AJAIB DI INDONESIA

POJ 2878 yang dikenal dengan sebutan “tebu ajaib” dari jawa (wondercane from java), tercatat dalam sejarah pergulaan dunia sebagai hasil pemuliaan yang tercanggih dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) pada tahun 1923. Mengapa dikatakan tebu ajaib? Karena dengan pengembangan POJ 2878 tersebut produksi gula dapat meningkat secara drastis, sehinga tidak hanya masalah penyakit sereh saja yang dapat diatasi tetapi juga dapat menyelamatkan industri gula dari ambang kebangkrutan pada saat itu. 

“tebu ajaib” POJ 2878 adalah hasil persilangan antar spesies (interspecific hybridization) dalam genus Saccharum antara klon Kasseor dari spesies liar (S.spontaneum L) yang ditemukan di Gunung Ciremai dengan klon tebu asli yaitu Banjarmasin Hitam (S. Officinarum). Namun hampir satu abad setelah terciptanya “tebu ajaib” (wondercane) tersebut, belum dihasilkan lagi tebu ajaib baru seperti yang telah dicapai pada abad yang lampau. Apakah penyebabnya ? penyebabnya adalah kekurangan gen-gen baru pada materi tetua persilangan yang digunakan dalam program perakitan varietas tebu unggul masa kini. Perakitan tebu unggul yang paling banyak dilakukan selama ini adalah melakukan tetua yang berkerabat dekat. Dengan demikian tingkat keragaman genetik populasi keturunan yang dihasilkan sangatlah sempit. Sempitnya keragaman populasi keturunan akibat perkawinan kerabat dekat atau saudara pada tebu menyulitkan terjadinya lompatan perbaikan genetik berupa varietas tebu yang bersifat ajaib tersebut.

                P3GI adalah satu-satunya lembaga riset tebu di Indonesia yang memiliki koleksi plasma nutfah tebu dan kerabat liarnya (Saccharum complex) yang sangat lengkap dan terbesar di Dunia.

Dengan demikian dapat dikatakan bahawa koleksi plasma nutfah dengan kerabat liar yang lengkap merupakan modal dasar yang sangat bernila bagi P3GI untuk merakit “tebu ajaib-tebu ajaib” beru.

sumber : Media Perkebunan edisi 168 November 2017

maxresdefault

World Plantation Conference and Exhibition (WPLACE)

WPLACE merupakan wahana untuk bertukar wawasan perkembangan tehnologi perkebunan didukung dengan beragam produk pasarnya melalui sebuah pameran. Kegiatan ini diselenggarakan di Hotel Grand Sahid Jakarta pada tanggal 18-20 Oktober 2017. Acara diikuti oleh > 1.000 peserta dari berbagai komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, teh, kina, kopi, kakao, tebu serta bioteknologi. Acara dibuka oleh Wakil Presiden Rpublik Indonesia Bapak Jusuf Kalla. Teknologi perkebunan menjadi kunci utama dalam meningkatkan produksi, mengingat keterbatasan lahan eksisting. P3GI berperanserta dalam konferensi bertema gula dengan melibatkan pembicara dari dalam dan luar negeri. Acara ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan perkebunan nasional.

Sumber Benih Tebu dengan Teknik Kultur Jaringan

 Pemerintah telah mencanagkan swasembada gula nasional.Namun dalam perkembangannya, pergulaan nasional pun masih banyak kekurangan.Benih sebagai salah satu faktor yang mampu meningkatkan produktivitas tebu harus segera diperbaiki. Melalui kultur jaringan diharapkan benih tebu mampu mendukung perbaikan pergulaan nasional.

 Jauh sejak penjajahan kolonial Belanda, komoditas tebu pada dasarnya telah mendapatkan perhatian besar sebagai komoditas komersial.Pemerintah kolonial Belanda telah mengembangkan industri gula di Pulau Jawa karena faktor yang begitu mendukung, yaitu tanah yang subur dan ketersediaan tenaga kerja yang melimpah.Kebijakan tersebut pun berlanjut pada pemerintah Indonesia melalui perusahaan negara perkebunan dan perkebunan-perkebunan besar swasta di luar Pulau Jawa.Dalam perkembangannya, tanaman tebu juga diusahakan oleh petani tebu rakyat intensifikasi dengan sistem pergiliran areal tanam.Sebagai salah satu industri manufaktur tertua di Indonesia, industri gula Indonesia pernah merasakan era keemasan pada tahun 1930-an.

Dimana pada masa tersebut Indonesia menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Pada masa itu produktivitas pabrik gula sekitar 14,8% dengan produksi puncak mencapai sekitar 3 juta ton dan ekspor gula menyentuh angka 2,4 juta ton. Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun industri gula Indonesia mengalami kemunduran dan sulit untuk bangkit, hingga pada akhirnya Indonesia menjadi salah satu importir gula di dunia pada saat ini.  Dari data yang dihimpun Dewan Gula Indonesia pada tahun 2005, menunjukkan pada periode 1991 hingga 2001, industri gula Indonesia mulai mengalami berbagai masalah. Salah satu indikatornya adalah volume impor yang terus meningkat dengan laju 16,66%, dan produksi gula dalam negeri menurun dengan laju 3,03% per tahun.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Perekebunan, pada tahun 2014 diperkirakan kebutuhan gula nasional baik untuk konsumsi langsung rumah tangga maupun industri akan terus meningkat sejalan dengan meningkatknya jumlah penduduk. Diperkirakan pada tahun 2014 saja kebutuhan gula nsional mencapai 5,7 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut diupayakan melalui Progran Swasembada Gula Nasional.Namun akankah program tersebut tercapai apabila produksi gula dalam negeri sendiri mengalami penurunan?Harus ada perbaikan yang dilakukan untuk mencapai swasembada gula nasional, baik on farm maupun off farm.Sasaran tersebut diusahakan secara bertahap dalam kurun waktu 2010 hingga 2014 dengan langkah-langkah intensifikasi untuk peningkatan produktivitas tebu. Peningkatan tersebut sekiranya akan dapat dicapai dengan sinergitas seluruh aspek, diantaranya sistem manajemen industri gula, rehabilitasi tanaman, penyediaan bibit bermutu, ketersediaan dana, pupuk, hingga dukungan teknologi.

Salah satu faktor terpenting dalam perbaikan pergulaan nasional di skala on farm, pengadaan benih tebu yang berkualitas dalam skala besar, cepat, dan murah merupakan hal yang sangat diperlukan saat ini. Pengadaan benih pada tanaman tebu, khusunya yang akan dipanen secara besar-besaran dalam waktu yang cepat akan sulit dicapai melalui teknik tradisional.

Didasari hal tersebut, peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia(P3GI) bidang pemuliaan, Dr. Hermono Budhisantosa, menyebutkan Good Seed Makes a Good Crop, benih yang baik menghasilkan tanaman yang baik. Menurutnya peningkatan produktivitas gula nasional selayaknya dimulai dari penataan penggunaan benih.Dalam budidaya tebu telah dikenal standar mutu benih yang baik menyangkut kebenaran, kemurnian, dan kesehatan benih.Untuk menjamin hal itu, dirinya menjelaskan bahwa dalam budidaya tebu terdapat juga sistem penyediaan benih dengan pola penjenjangan.Namun dirinya menyayangkan dalam prakteknya, baik penjenjangan maupun sertifikasi mutu sering tidak terlaksana dengan baik.Dirinya menyebutkan, evaluasi kinerja kebun pembenihan tebu telah dilakukan P3GI tahun 2003 hingga 2004.Pengamatan dilakukan di 14 pabrik gula yang mewakili pabrik gula di Pulau Jawa. Berdasarkan pengamatan tersebut, Hermono menyebutkan bahwa P3GI mendapatkan hasil evaluasi yaitu secara umum 86% kebun pembenihan tebu di bawah kualifikasi dan sekitar 12% dari pembibitan tebu yang diamati memenuhi persyaratan. Sedangkan dari tingkat kemurnian tebu, P3GI mendapatkan hasil evaluasi sekitar 64% pembibitan tebu dilakukan sebagai persyaratan standar.“Hasil ini menggambarkan bahwa perkebunan tebu tidak memberikan perhatian serius pada kesehatan tebu pembibitan,” ungkap Hermono.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, Hermono mengungkapkan bahwa sangat beresiko mengandalkan kebun penjenjangan konvensional terutama pada aspek kesehatan.Lanjut dirinya menjelaskan, penjenjangan konvensional dapat digunakan bila diiringi dengan penerapan sertifikasi mutu serta perbaikan sumber benih.“Perbaikan mutu benih bisa dilakukan dengan kultur jaringan sebagai salah satu alternatif,” ungkap Hermono. Secara teknis dirinya menjelaskan pada teknik kultur jaringan, bagian tanaman seperti protoplas, sel, jaringan dan organ ditumbuhkan dan diperbanyak dalam media buatan dengan kondisi aseptik dan terkontrol.  Salah satu manfaat menggunakan metode tersebut, yaitu mampu menghilangkan virus penyebab penyakit garis kuning (sugarcane yellow leaf virus), virus mosaik tebu (sugarcane mosaic virus), dan ratoon stunting disease (RSD).“Selain menyehatkan sumber benih, teknik ini merupakan upaya perbanyakan benih secara cepat.Perbanyakan melalui kultur jaringan juga meningkatkan penangkaran,” jelas peneliti P3GI tersebut.

Hermono menyebutkan untuk mencapai swasembada gula nasional, dapat pula dengan mengusahakan peningkatan produktivitas melalui penggunaan bongkar ratoon. Peningkatan produktivitas melalui program bongkar ratoon mencakup dua hal penting. Dirinya menyebutkan yang pertama adalah peningkatan karena berubahnya tanaman keprasan menjadi tanaman plant cane (PC). “Jika produktivitas keprasan diasumsikan 90% dari produktivitas tanaman sebelumnya, maka program bongkar ratoon dari tanaman keprasan ke tiga menjadi PC bila dilaksanakan dengan baik akan mengembalikan potensi produksi yang telah menurun hingga 65% menjadi 100%,” jelas Hermono. Yang kedua adalah peningkatan produktivitas dengan menggunkan benih bermutu.Di sinilah peran penggunaan benih G2 dalam meingkatkan produktivitas.“Dengan benih yang bebas dari penyakit serta kebenaran dan kemurnian varietas yang terjamin, produktivitas tebu dapat naik 25%, sedang produktivitas gula naik lebih dari 1%,” ujar Hermono Budhisantosa.

Pada dasarnya apapun yang akan dilakukan untuk mencapai swasembada gula nasional yang terpenting adalah keberlanjutan dari mutu tebu itu sendiri. Sehingga peningkatan produktivitas bukan menjadi suatu hal yang dilakukan untuk jangka pendek, melainkan harus diusahakan sebagai program dengan skala jangka panjang.Sangat ironis apabila peningkatan produktivitas tidak diiringi dengan penggunaan bibit yang bermutu, khususnya dalam masalah kesehatan.Program swasembada gula nasional merupakan agenda penting, namun alangkah pentingnya menjaga kualitas mutu dari benih tebu itu sendiri. Hermono mengungkapkan, benih kultur jaringan mampu memperbaiki sumber benih menjadi sehat dan murni sehingga mampu meningkatkan produktivitas. Dengan berbagai kendala, penyaluran benih bermutu pada program bongkar ratoon nampaknya tidak memenuhi target.“Tidak terpenuhinya target penyaluran benih terutama kultur jaringan dalam program bongkar ratoon dikhawatirkan membuat peningkatan produktivitas tidak sejalan dengan yang diharapkan,” pungkas Hermono Budhisantosa.

Oleh : Untung Prasetyo

http://asosiasigulaindonesia.org/sumber-benih-tebu-dengan-teknik-kultur-jaringan/

Menuju Varietas Tebu Spektakuler

Lahirya POJ 2878 sebagai varietas tebu unggul yang spektakuler memberikan pelajaran akan pentingnya plasma nutfah tebu. Kejayaan yang telah memudar dan menjadi sejarah, seharusnya mampu membangunkan pikiran dari kenangan masa lalu.Bangkit dan realisasikan mimpi untuk menghasilkan varietas unggul layaknya POJ 2878 menjadi harga mati untuk kejayaan pergulaan nasional.

Lebih dari 100 tahun silam, tepatnya pada tahun 1887 peneliti kenamaan Soltwede berhasil menemukan sebuah teori yang sangat membantu perkebunan dan industri tebu hingga saat ini. Dalam penelitiannya, Soltwede menyimpulkan bahwa perbanyakan tebu dapat dilakukan melalui biji. Sejak saat itulah mata dunia terbuka  bahwa tebu yang pada awalnya dibudidayakan hanya menggunakan tebu asli dari spesies Saccharum officinarum, beralih dengan merakit varietas-varietas tebu unggul. Seiring berjalannya waktu, penelitian terus dikembangkan hingga pada tahun 1923 dihaslkan POJ 2878 sebagai varietas unggul spektakuler.Penyebutan spektakuler pantas disandang oleh varietas tersebut sebab mampu mengatasi penyakit sereh yang mengancam industri gula pada masa itu.

POJ 2878 merupakan varietas tebu unggul yang dimiliki oleh Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang dihasilkan dari lompatan genetik sebagai hasil persilangan antara kultivar tebu nobel dengan spesies liarnya S. Spontaneum kemudian keturunannya disilang balik dengan S. officiniorum. Bersama P3GI yang mengembangkan POJ 2878, varietas tersebut tercatat sebagai varietas terbaik sejak zaman Hindia Belanda.Pada masa tersebut POJ 2878 mampu meningkatkan produksi gula secara drastis, yaitu sekitar 35% dari varietas sebelumnya. Bukan saja mengatasi penyakit sereh, namun peningkatan produksi tersebut pun mengatasi masalah persaingan gula tebu dengan gula bit pada saat itu. Sehingga pada zamannya POJ 2878 lebih dikenal sebagai wondercane from Java (tebu ajaib dari jawa).Pada saat yang bersamaan pula, di beberapa negara seperti India, menghasilkan varietas-varietas tebu unggul yang memberikan sumbangan penting pada percepatan perkembangan industri gula dunia, yaitu diantaranya Co290, Co419, Nco210, dan CP49/50.

Melihat sifat dasar dari tanaman tebu yang sangat polipoid dan memiliki genom yang sangat kompleks, sehingga dalam proses perbanyakannya sangat dipengaruhi faktor strategi, metode, dan efisiensi program perakitan varietasnya. Namun dengan lahirnya POJ 2878 faktor-faktor tersebut dapat diminimalisir, sebab POJ 2878 telah digunakan sebagai varietas tetua persilangan pada program pemuliaan tebu di seluruh dunia hingga kini. Sehingga menurut peneliti P3GI bidang pemuliaan, Dr. Wiwit Budi Widyasari, dasar genetik pada varietas-varietas modern saat ini menjadi tampak sempit karena berasal dari satu “darah” yaitu POJ 2878. “Keragaman keturunan persilangan saat ini sangat rendah sebab keragaman tetua persilangannya pun sangat rendah, inilah alasan mengapa kemajuan program perakitan varietas tebu unggul menjadi sangat lambat,” ungkap Widyasari.Mengutip dari tulisan Widyasari, dengan demikian keragaman genetik populasi keturunan yang dihasilkan sangatlah sempit.Sempitnya keragaman populasi keturunan akibat perkawinan kerabat dekat atau satu saudara ini yang menyulitkan terjadinya lompatan perbaikan genetik berupa varietas tebu unggul yang spektakuler.

Melaju dari sejarah varietas unggul POJ 2878 dan semakin rendahnya hasil persilangan yang menghasilkan varietas unggul, timbul pertanyaan akankah dapat kembali mengulang sejarah tersebut?Berdasarkan hal tersebut, menurut Widyasari terlahirnya wondercane baru sangat mungkin terwujud apabila menyilangkan tetua yang mempunyai keragaman genetik tinggi dan berkerabat jauh. Sehingga Widyasari menuturkan bahwa dengan adanya POJ 2878 seharusnya kini kita banyak belajar dengan melakukan perbaikan genetik pada tebu yang dicirikan dengan penambahan perolehan genetik yang luar biasa dan berpeluang akan terjadi lompatan kemajuan genetik seperti POJ 2878.  “Kunci lain untuk mewujudkan mimpi menciptakan wondercane-wondercane baru yaitu melalui penyediaan koleksi plasma nutfah tebu yang meliputi kerabat-kerabat liarnya,” jelas Widyasari.

Widyasari menjelaskan P3GI merupakan lembaga riset satu-satunya di Indonesia yang memiliki koleksi plasma nutfah tebu dan kerabat liarnya (saccharum complex) yang cukup lengkap, yaitu terdiri dari genus Saccharum, Erianthus, Mischantus, tebu hybrid rakitan sendiri, dan introduksi dari negara lain.  Lanjut dirinya menjelaskan, P3GI sejak tahun 2009 telah melakukan terobosan baru melalui program introgresi. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mewujudkan kejayaan pergulaan di masa lampau dengan cara memperluas dasar genetik tetua persilangan dan keturunannya. “Melalui program introgresi sifat-sifat menguntungkan dari genus lain pada kelompok Saccharum complex yaitu Erianthus sextion Ripidium, diharapkan mampu memperluas dasar genetik tetua persilangan,” ujar Widyasari. Pemilihan Erianthus sextion menurut Widyasari didasarkan pada keunggulan genus Eranthius yang tidak dimiliki oleh varietas tebu komersial, yaitu pertumbuhan cepat, tegak, tinggi, jumlah batang rapat, biomassa tinggi, tahan kepras, tahan cekaman kekeringan, dan genangan.

Pengambil alihan POJ 2878 oleh pemerintah menambah “sepi” nya proses pemuliaan tanaman dengan menghasilkan varietas unggul seperti di masanya.  Widyasari menuturkan di sisi lain klon-klon hasil ekspedisi yang dilakukan oleh P3GI belum ada yang dimanfaatkan dalam perakitan varietas tebu unggul masa kini. Lanjut dirinya menceritakan, sejak tahun 2009 P3Gi telah melakukan terobosan baru yaitu melakukan persilangan antar genus yang belum pernah dilakukan sebelumnya.Pada masa-masa sebelumnya menurut peneliti tersebut, perkawinan kerabat liar yang sudah pernah dilakukan sebelumnya menggunakan S. spontaneum.“Sedangkan pada tahun 2009, P3GI menggunakan kerabat liar dari genus Erianthus dalam program perakitan varietas tebu unggul baru,” ungkap Widyasari.

Widyasari menjelaskan, dalam perajalanannya dari hasil persilangan tersebut dihasilkan keturunan yang menunjukan potensi unggul yang telah dibuktikan dari keturunan pertama (F1).“Hasil yang sangat membanggakan telah terlihat dengan persilangan satu kali saja, hasilnya telah memberikan harapan melebihi varietas standarnya,” jelas Widyasari.Kebanggaan tersebut ditunjukkan dengan capaian potensi rendeman beberapa klon F1 yang mencapai 12% bahkan hingga 14%. Beberapa klon lagi memberikan potensi hablur lebih dari 200 kw/ha di lahan percobaan. Namun Widyasari menyayangkan masih adanya kekurangan yang ditemukan dari percobaan tersebut.Dirinya menjelaskan bahwa ternyata antara hasil tebu dengan rendeman korelasinya tidak positif.“Klon yang potensi hasil tebunya tinggi, potensi hasil tebunya rendah.Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan rata-rata rendeman tinggi karena periode puncak kemasakannya yang singkat,” jelas Widyasari.

Namun kekurangan dan kegagalan sejatinya menjadi sebuah semangat yang harus terus dijaga untuk menghasilkan varietas-varietas unggul melalui percobaan-percobaan klon-klon yang dimiliki oleh P3GI. Widyasari dan para peneliti P3GI optimis di masa mendatang akan dihasilkan varietas unggul untuk mengembangkan industri gula tebu indonesia. “Walaupun inovasi P3GI masih perlu pengujian lebih lanjut dalam skala lahan yang lebih luas, namun terobosan yang dilakukan P3GI telah sejalan dengan perlunya membuat strategi perkawinan tebu untuk memperluas dasar genetik varietas tebu komersial,” pungkas Wiwit Budi Widyasari.  Menurutnya apa yang dilakukan oleh nya dan bersama peneliti lainnya di P3GI telah memberikan pengetahuan baru mengenai tebu, yakni jawaban atas pertanyaan mengapa perakitan varietas tebu unggul baru cenderung mengalami leveling off dalam keragaman. Kedepannya Widyasari dan P3GI tetap optimis dan memiliki mimpi yang harus diwujudkan untuk menghasilkan terobosan baru dalam mempercepat pembentukan varietas tebu unggul spektakuler seperti POJ 2878 di masa mendatang.

Sumber : http://asosiasigulaindonesia.org/menuju-varietas-tebu-spektakuler/

Focus Group Discussion (FGD)

Penguatan Pabrik Gula Berbasis Tebu Dalam Perlindungan Konsumen Dan Peningkatan Kesejahteraan Petani

Latar belakang

Sejak diterbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.68/2013 tentang Pemberlakuan SNI GKP Secara Wajib dua tahun yang lalu pada Juni 2015, maka tidak ada pilihan lain bagi industri gula untuk memenuhi persyaratan mutu SNI Wajib GKP tersebut. Persyaratan yang terdapat di dalam SNI GKP Wajib yang belum bisa diakomodir sepenuhnya oleh sebagian besar Pabrik Gula berbasis tebu, dampaknya tidak saja mengancam eksistensi Pabrik Gula sebagai produsen tetapi juga para petani tebu rakyat yang sebagian besar merupakan penopang suplai bahan baku Pabrik Gula. Perlu adanya evaluasi dan penyempurnaan di dalam parameter SNI GKP Wajib agar Pabrik Gula sebagai produsen dan petani tebu rakyat sebagai penyulai bahan baku tebu eksistensinya dapat tetap terjaga, serta masyarakat sebagai konsumen dapat merasakan keamanan mutu produk. Melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Penguatan Pabrik Gula Berbasis Tebu dalam Perlindungan Konsumen dan Peningkatan Kesejahteraan Petani” diharapkan dapat menghasilkan solusi konkret untuk keberlangsungan hidup industri gula berbasis tebu dan target pemerintah untuk swasembada gula dapat tetap terjaga.

Narasumber

          Focus Group Discussion menghadirkan narasumber dari berbagai instansi untuk merumuskan berbagai permasalahan pergulaan nasional, antara lain :

  1. Asosiasi Gula Indonesia
  2. Direktur Jenderal Perkebunan, Ditjenbun. Kementerian Pertanian.
  3. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia
  4. Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan
  5. Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian
  6. Deputi Industri Agro dan Farmasi, Kementerian BUMN
  7. Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi BSN
  8. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian.
  9. Kepala Bahan Berbahaya,Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
  10. Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia

Draft Rumusan Download

Tempat Kegiatan:

Gedung Lantai.4  Kantor Pusat Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP)

Jl. Jend. Urip Sumoharjo 100 Yogyakarta 55222,

Telp : (0274) 586201, Fax :  (0274) 520082

SAVE OUR P3GI

Pada Hari senin Tanggal 27 Maret 2017  di City Forest and Farm Arum Sabil  berlangsung Pertemuan silaturohim bersama PUSAT PENENELITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA (P3GI)   _*HM ARUM SABIL* sebagai Ketua Dewan Pembina DPP APTRI yang juga sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Anggota DEWAN PINPINAN PUSAT GABUNGAN ASOSIASI PETANI PERKEBUNAN INDONESIA bersama _*- Ir Triantarti M.Sc (Direktur P3GI)*_ _*- Dr. Lilik Kusmihartono ( Kepala Bidang Penelitian )*_ _*- Ari Kristini,SP. MPlantProt. (Ka. Bidang Usaha dan Pelayanan).*_ Serta Para Perwakilan Serikat Pekerja P3GI Melakukan Pertemuan silaturohim dan Diskusi Tentang Kondisi  P3GI yang sudah di ambang kematian. Direktur P3GI Ir Triantarti M.Sc bersama jajaran Pejabat P3GI dan perwakilan Serikat Pekerja, dalam ungkapanya tercermin kesedihan yang begitu Mendalam, Sudah hampir empat bulan Kayawan P3GI tidak mendapatkan haknya berupa Gaji sebagai bentuk hasil jerih payah dari Pengabdianya, Padahal sumberdaya Manusia di P3GI adalah orang-orang yg memiliki keilmuan dan keahlian di bidang Tanaman Tebu dan Pabrik Gula yang Handal dan Mumpuni. Namun Demikian Para Peneliti dan Para Ahli Yang selama ini dengan setia menjaga dan Merawat  P3GI terus Semangat dan Berkarya untuk selalu Mempersiapkan diri dalam Mewujutkan Program swasembada gula.   Karya dan Keberadaan P3GI sudah di akui oleh pelaku Usaha Pergulaan Dunia, karena Pusat Penelitian Perkebunan Gula indonesia di samping satu-satunya di Indonesia yg berada di Kota Pasuruan Tetapi Juga Merupakan Pusat Penelitian Gula Tertua Di Dunia. Negara2 Produsen Besar Gula Dunia Menempatkan R&D Di Garda Terdepan dalam Mengawal kesuksesan Usaha Busnis Gulanya. Namun Apa yang terjadi Di  Bumi nusantara yg kita cintai ini, Para ahli dan  Peneliti di bidang Perkebunan Tebu Dan Pabrik Gula terkesan di abaikan dan di terlantarkan.    Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang selama puluhan bahkan ratusan Tahun telah ikut Andil bersama-sama dalam perkembangan Industri gula dalam Negeri saat ini sudah dalam kondisi menghadapi lonceng Kematian, persoalan-persoalan external maupun internal yang terus Mendera mengharapkan Negara Hadir Menjadi Penyelamat. P3GI adalah bagian dari sebuah instrumen dominan dalam Mewujutkan swasembada gula yang Berdaya saing,karena :   P3GI Memiliki Harta Karun Ribuan  Plasma Nutfah (Sumber daya Genetik ) Koleksi Plasma Nutfah ada sekitar 5000 aksesi atau jenis.   Rata-rata negara produsen besar gula dunia Lembaga Risetnya hanya memilliki Plasma Nutfah hanya sekitar 1500 aksesi.   P3gi di bangun  9 juli 1887 Luas tanah yg di miliki total sekitar 80 ha. dengan jumlah Karyawan Tetap 153 termasuk di dalam tenaga peneliti 35 orang.Tenaga kontrak outsourscing 30 orang. Biaya Biaya opersinal  dan gaji setiap bulan Rp 1.5 M. -Sumber Dana selama ini dari penjualan produk Riset dan jasa kepakaran  dan jasa laboratorium Rp 7m.  -subsidi puslit lain dan  pernah mendapat Rp 7m  terus menurun Rp 4.5M dan sekarang sudah tidak ada subsidi silang antar puslit. Dari uraian kondisi tersebut di atas maka saya Mengajak dan Menghimbau kepada saudara-saudarakuku Para Petani Tebu dan Para Pimpinan Perusahan Gula BUMN maupun swasta untuk Ikut bersama memberikan solusi dan Membantu melakukan Penyelamatan terhadap Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) .   Peneliti adalah Profesi  berdasarkan Ke ilmuan dan Ke ahlian Untuk Bisa Mendapat kan Varitas Tanaman Tebu yang Unggul  tentunya kehadiran Karya Peneliti adalah sebuah Harapan. P3GI adalah Milik  Masyarakat Pergulaan Nasional  dan Kebanggaan Bangsa indonesia  yang harus kita jaga Bersama.   Semoga kita semua selalu di Rahmati Allah   HM ARUM SABIL Ketua Dewan Pembina DPP APTRI

Kerjasama Pelatihan Riset Potensi dan Pengembangan Industri Gula di Pulau Madura

Indonesia yang banyak mempunyai potensi sumber daya alam tapi di satu sisi kurang nya potensi itu di kembangkan, khususnya bidang pertanian.Salah satu potensi bidang pertanian itu adalah tebu   terutama di daerah Madura,hal ini berpengaruh dengan tingkat ekonomi masyarakat khususnya para petani itu sendiri.

Oleh Karenanya Jurusan Sosial Ekonomi dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI) dan PTPN X serta didukung oleh Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) mengadakan Pelatihan Riset Potensi dan Pengembangan Industri Gula di Madura. Bertempat di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung Sosek FPUB, Jum’at (17/03/2017). Acara ini di hadiri oleh Ketua Jurusan Sosek Mangku Purnomo, Ph.D,. dan diikuti oleh 15 mahasiswa terpilih sebagai peserta.

Sumber : http://sosek.ub.ac.id/kerja-sama-pelatihan-riset-potensi-dan-pengembangan-antara-p3gi-dan-jurusan-sosek/